Example floating
Example floating
PolitikBerita

Said Abdullah Ajak Perempuan Jadi Garda Terdepan Rawat Kebangsaan Lewat Empat Pilar

Avatar of Altriannews.com
355
×

Said Abdullah Ajak Perempuan Jadi Garda Terdepan Rawat Kebangsaan Lewat Empat Pilar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260211 WA0040

SUMENEP, Altriannews.com – Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI (Madura) dari Fraksi PDI Perjuangan, MH. Said Abdullah, mengajak kaum perempuan menjadi garda terdepan dalam merawat nilai-nilai kebangsaan melalui penguatan Empat Pilar.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Ballroom Hotel De Baghraf, Sumenep, Rabu (11/2/2026).

Ratusan perempuan dari berbagai latar belakang hadir dalam kegiatan itu. Mereka mengikuti pemaparan materi tentang Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Said Abdullah menegaskan, perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kebangsaan, terutama dari lingkungan keluarga.

“Perempuan adalah tiang bangsa. Jika nilai-nilai Pancasila hidup di dalam keluarga, maka Indonesia akan tetap kokoh sebagai NKRI yang bersatu dalam keberagaman,” ujar Said Abdullah.

Menurutnya, penguatan Empat Pilar bukan sekadar agenda formal, melainkan ikhtiar bersama untuk memastikan nilai persatuan dan keadilan sosial tetap terjaga di tengah dinamika zaman.

Sosialisasi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Hodaifah dan Indayani. Turut mendampingi dua tenaga ahli MH. Said Abdullah, Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H.

Dalam pemaparannya, Hodaifah menjelaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan sejatinya bukan hal baru bagi masyarakat. Sejak di bangku sekolah, materi tersebut telah dipelajari, namun kerap terlupakan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

“Empat Pilar Kebangsaan ini sudah kita pelajari sejak SMP hingga dewasa. Karena itu mari kita mengingat kembali bahwa ini adalah dasar utama menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Ia menekankan, Pancasila tidak cukup dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial harus tercermin dalam perilaku masyarakat.

Hodaifah juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap hak dan kewajiban konstitusional. UUD 1945, kata dia, telah menjamin persamaan di depan hukum, hak atas pekerjaan, serta kebebasan beragama.

“Di dalam konstitusi sudah jelas ada hak atas persamaan di depan hukum. Tantangannya adalah bagaimana implementasinya bisa benar-benar dirasakan masyarakat,” paparnya.

Sementara itu, Indayani menekankan pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan ras disebutnya sebagai kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama.

“Kita terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan ras. Itu adalah kekayaan bangsa yang tidak boleh diabaikan, apalagi dijadikan alasan untuk merendahkan yang lain,” ucapnya.

Ia mengingatkan, sikap intoleran dapat tumbuh dari hal-hal kecil, termasuk candaan yang merendahkan identitas kelompok tertentu. Karena itu, masyarakat diminta terus menumbuhkan sikap saling menghargai.

“Kalau harmoni sosial tidak terjaga, yang muncul adalah intoleransi dan perpecahan. Karena itu kita harus saling menghargai walaupun berbeda,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Said Abdullah berharap perempuan semakin percaya diri mengambil peran dalam menjaga persatuan dan menanamkan nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat persatuan. Perempuan memiliki peran penting memastikan nilai itu tumbuh dari rumah, lalu menyebar ke lingkungan dan masyarakat luas,” pungkasnya.

 

Penulis : Acan

Editor : Tim Altrian News

Penerbit : Altriannews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *