Example floating
Example floating
PemerintahBerita

Hilal Tak Terlihat, PWNU Jawa Timur Rekomendasikan Awal Ramadhan 1447 H pada 19 Februari 2026

Avatar of Altriannews.com
267
×

Hilal Tak Terlihat, PWNU Jawa Timur Rekomendasikan Awal Ramadhan 1447 H pada 19 Februari 2026

Sebarkan artikel ini
ALTRIANNEWS.COM 20260313 181950 0000

ALTRIAN NEWS – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur merekomendasikan awal Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Rekomendasi tersebut disampaikan setelah pelaksanaan rukyatul hilal yang digelar serentak di berbagai titik pengamatan di wilayah Jawa Timur.

Pemantauan hilal dilakukan oleh Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) bersama tim falakiyah di tingkat kabupaten dan kota. Pengamatan dilaksanakan menjelang matahari terbenam untuk memastikan kemungkinan terlihatnya hilal sebagai penanda awal bulan Ramadhan.

Ketua LFNU Jawa Timur, Samsul Ma’arif, menyampaikan bahwa hingga proses rukyat selesai tidak ada laporan terlihatnya hilal dari seluruh lokasi pengamatan. Hal tersebut disampaikan setelah pihaknya menerima rekapitulasi laporan dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Menurutnya, secara astronomis ijtimak terjadi setelah matahari terbenam sehingga posisi hilal masih berada di bawah ufuk barat. Kondisi tersebut menyebabkan tinggi hilal bernilai negatif dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.

“Dengan posisi tersebut, hilal tidak memungkinkan untuk diamati, bahkan menggunakan alat optik,” ujarnya.

Salah satu lokasi pengamatan berada di Balai Rukyat NU Bukit Condrodipo, Kabupaten Gresik. Di lokasi tersebut, tim falakiyah telah menyiapkan teleskop serta perangkat hisab untuk mendukung proses observasi.

Meski kondisi cuaca di beberapa daerah relatif mendukung, para perukyat tetap tidak berhasil menyaksikan hilal. Hasil pengamatan itu kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada jajaran syuriyah PWNU Jawa Timur.

Selanjutnya laporan resmi tersebut akan diteruskan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai bahan ikhbar organisasi. Namun keputusan final mengenai awal Ramadhan tetap menunggu hasil sidang itsbat yang akan digelar pemerintah pusat.

Sebelumnya, PWNU Jawa Timur menginstruksikan pelaksanaan rukyatul hilal di 41 titik pengamatan strategis. Lokasi tersebut tersebar di berbagai wilayah mulai dari kawasan pesisir, dataran tinggi hingga gedung bertingkat di sejumlah kota.

Beberapa daerah yang terlibat antara lain Jember, Kediri, Madura, Gresik, Ponorogo, Saradan, Sumenep, Bondowoso, dan Lumajang. Selain itu, pengamatan juga dilakukan di Bojonegoro, Pasuruan, Malang, Situbondo, Bangil, Banyuwangi, Tuban, serta Bawean.

Wilayah Mojokerto, Jombang, Blitar, Pacitan, Sampang, Surabaya, Probolinggo, Lamongan, Sidoarjo, Ngawi, Bangkalan, Ambulu, hingga Pilangkenceng juga menjadi bagian dari jaringan pemantauan hilal tersebut.

Metode rukyat dipadukan dengan perhitungan hisab guna memastikan hasil pengamatan selaras dengan data astronomi. Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga akurasi penetapan awal bulan hijriyah.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, bulan Sya’ban diperkirakan digenapkan menjadi 30 hari. Karena itu, awal Ramadhan 1447 Hijriyah direkomendasikan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Masyarakat diimbau tetap menunggu keputusan resmi dari sidang itsbat pemerintah sebelum memulai ibadah puasa Ramadhan secara nasional.

 

Penulis: Acan

Editor: Tim Redaksi Altriannews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *