Example floating
Example floating

Pekan Literasi 2026, Bupati Sumenep Dorong Pelajar Berpikir Kritis dan Bertanggung Jawab

IMG 20261010 WA0066
A-AA+A++

SUMENEP | altriannews.com – Bupati Sumenep menekankan pentingnya budaya literasi bagi generasi muda sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep, Selasa (6/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi dinilai berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan secara baik dan bertanggung jawab.

Pekan Literasi menjadi salah satu ruang bagi lingkungan sekolah untuk mendorong kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan menghasilkan karya.

Bupati mengatakan budaya literasi memiliki peran penting dalam membentuk kualitas generasi muda. Kemampuan tersebut diperlukan agar pelajar tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahami dan menyikapinya secara bijak.

“Budaya literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menyampaikan gagasan secara baik dan bertanggung jawab,” kata Bupati di sela-sela Pekan Literasi 2026 SMAN 1 Sumenep, Selasa (6/10/2026).

Menurut Bupati, perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membuat kemampuan literasi menjadi semakin penting. Pelajar berhadapan dengan berbagai informasi dari beragam sumber sehingga diperlukan kemampuan untuk memahami, memilah dan mengolah informasi secara tepat.

Lingkungan sekolah, kata dia, memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan tersebut sejak dini.

Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, kreativitas dan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan gagasan.

“Literasi merupakan bekal penting bagi generasi muda agar tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman,” tegasnya.

Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep menjadi momentum untuk mendorong aktivitas literasi di lingkungan sekolah.

Kegiatan semacam ini dapat memberikan ruang kepada pelajar untuk mengembangkan minat membaca dan menulis sekaligus mengekspresikan gagasan melalui karya.

Dalam konteks pendidikan, kebiasaan literasi tidak terbentuk secara instan. Diperlukan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten melalui berbagai aktivitas di sekolah.

Membaca, menulis, berdiskusi dan menghasilkan karya dapat menjadi bagian dari aktivitas pendidikan yang mendukung kemampuan siswa dalam memahami persoalan di sekitarnya.

Penguatan budaya literasi juga berkaitan dengan kemampuan siswa menyampaikan pendapat secara terstruktur. Dengan kebiasaan tersebut, pelajar diharapkan lebih percaya diri dalam mengemukakan gagasan sekaligus mampu menghargai pandangan orang lain.

Bupati menilai lingkungan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan literasi sejak dini.

Karena itu, kegiatan Pekan Literasi diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Semangat literasi perlu terus dikembangkan menjadi kebiasaan sehari-hari di lingkungan pendidikan.

Dorongan tersebut penting karena kualitas sumber daya manusia daerah turut dipengaruhi oleh kemampuan generasi mudanya dalam memperoleh, memahami dan menggunakan pengetahuan.

Literasi juga menjadi bagian dari kemampuan menghadapi perubahan sosial dan teknologi. Pelajar dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami informasi yang diperoleh melalui berbagai platform.

Dengan kemampuan tersebut, generasi muda diharapkan dapat lebih selektif dalam menerima informasi dan mampu menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep menjadi salah satu momentum untuk memperkuat pesan tersebut di lingkungan pendidikan.

Pertama, Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep mendorong pemahaman bahwa literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi dan mengolah pengetahuan.

Kedua, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan berkarya agar menjadi bagian dari keseharian pelajar.

Ketiga, penguatan budaya literasi diharapkan melahirkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman.

Pada akhirnya, budaya literasi membutuhkan pembiasaan dan dukungan bersama antara sekolah, keluarga, pemerintah dan masyarakat. Penguatan kemampuan literasi sejak bangku sekolah diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam meningkatkan kualitas generasi muda Sumenep.

 

Penulis: ACAN

Editor: Tim Altrian News