Example floating
Example floating

Promkes Dampingi Ponpes Al-UM Ambunten, Dinkes P2KB Dorong Santri Terapkan PHBS

Tim Promkes Dinkes P2KB bersama pengasuh dan santri Pondok Pesantren Al-UM Ambunten dalam kegiatan pendampingan kesehatan.
Ket/foto: Tim Promkes Kabupaten bersama tenaga kesehatan, pengasuh dan santri Pondok Pesantren Al-UM Kecamatan Ambunten dalam kegiatan pendampingan Promosi Kesehatan, Rabu (30/9/2026).
A-AA+A++

SUMENEP|altriannews.com – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep melalui Tim Promosi Kesehatan (Promkes) melakukan pendampingan di Pondok Pesantren Al-UM, Kecamatan Ambunten, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menyasar santri dan pengasuh pondok pesantren. Tim Promkes Kabupaten hadir bersama Tim Promkes Puskesmas, perawat desa, bidan desa, serta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Pendampingan ini dilakukan untuk mendorong peningkatan kualitas kesehatan dan kebersihan lingkungan pesantren sekaligus memperkuat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

Selain aspek kesehatan, program tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan kualitas kelembagaan pesantren serta mendukung pembentukan karakter dan akhlak santri.

Lingkungan pondok pesantren menjadi salah satu ruang penting dalam pembentukan kebiasaan santri. Aktivitas belajar, beribadah, dan kehidupan sehari-hari yang berlangsung bersama membuat kebersihan dan kesehatan lingkungan menjadi perhatian bersama.

Karena itu, pendampingan Promkes tidak hanya menitikberatkan pada penyampaian informasi kesehatan, tetapi juga mendorong keterlibatan pengasuh dan santri dalam membangun kebiasaan hidup sehat.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes., menegaskan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan sekaligus karakter santri.

“Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter santri. Karena itu, kesehatan dan kebersihan lingkungan pesantren harus menjadi bagian dari proses pembinaan sehari-hari. Melalui pendampingan Promkes ini, kami ingin mendorong agar perilaku hidup bersih dan sehat dapat diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga pesantren.” tegasnya.

Menurut, drg. Ellya Fardasah, M.Kes., penerapan PHBS membutuhkan konsistensi. Kebersihan lingkungan pesantren tidak cukup hanya dijaga ketika terdapat kegiatan kesehatan, tetapi harus menjadi bagian dari rutinitas seluruh warga pondok.

Selain PHBS, kegiatan pendampingan juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan strata pelayanan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).

Poskestren diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pendukung dalam memberikan edukasi kesehatan serta membantu menghubungkan kebutuhan kesehatan warga pesantren dengan tenaga kesehatan di wilayah setempat.

Kehadiran perawat desa dan bidan desa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendampingan secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara pesantren dan tenaga kesehatan juga dinilai penting untuk mengetahui berbagai persoalan kesehatan yang mungkin dihadapi santri sekaligus mendorong langkah pencegahan sejak dini.

Program kesehatan santri remaja turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Salah satu program spesifik yang dikawal adalah kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi santri remaja.

Pengawalan program tersebut membutuhkan pemahaman santri serta dukungan pengasuh pesantren. Edukasi kesehatan diharapkan dapat membuat santri memahami pentingnya menjaga kesehatan dan mengikuti program yang diberikan tenaga kesehatan.

Keterlibatan BAZNAS juga menjadi bagian dari dukungan lintas pihak dalam kegiatan pendampingan di Pondok Pesantren Al-UM.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes., mengungkapkan, peningkatan kesehatan pesantren membutuhkan sinergi berbagai unsur dan tidak dapat hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan.

“Kami berharap sinergi antara tenaga kesehatan, pengasuh pesantren, santri, pemerintah desa, serta pihak terkait lainnya dapat terus diperkuat. Bukan hanya dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dalam meningkatkan status kesehatan santri, memperkuat Poskestren, dan mengawal program kesehatan remaja seperti konsumsi Tablet Tambah Darah.” ungkapnya.

Pendampingan di Pondok Pesantren Al-UM Ambunten tersebut menjadi bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga diharapkan menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Pengasuh pesantren memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang mendukung perilaku sehat. Sementara santri menjadi bagian utama yang menjalankan kebiasaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

“Dengan demikian, keberhasilan pesantren sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan pendampingan, tetapi juga dari keberlanjutan penerapan PHBS, berfungsinya Poskestren, serta meningkatnya kesadaran santri terhadap kesehatan,” jelas, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes.

Pendekatan kolaboratif antara Dinkes P2KB, Puskesmas, pemerintah desa, pengasuh pesantren, santri, BAZNAS, dan pihak terkait lainnya diharapkan mampu memperkuat upaya menciptakan lingkungan pesantren yang sehat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun generasi santri yang tidak hanya memiliki karakter dan akhlak, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

 

Penulis: ACAN

Editor: Tim Altrian News