SUMENEP | AltrianNews.com – Dalam rangka mendukung Program Percepatan Pencegahan dan Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumenep tahun 2024 – 2026, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep bekerja sama dengan Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHYSA) menggelar Pelatihan Penyegaran Kader TBC Komunitas.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 5 – 6 Maret 2025, dan diikuti oleh 40 kader TBC dari berbagai Puskesmas di Sumenep. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam investigasi kontak, penemuan kasus baru, pendampingan pasien, serta pencatatan dan pelaporan.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasah, menegaskan bahwa kader memiliki peran kunci dalam menekan angka penularan TBC. Menurutnya, program ini harus menjadi pemicu semangat kader untuk semakin aktif mencari pasien dan memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang tepat.
“Kami mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak dalam penanggulangan TBC. Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap kader lebih siap dan aktif dalam menemukan kasus baru serta mendampingi pasien agar mereka bisa sembuh,” ujar Ellya, Rabu (05/03/2025).
Sementara itu, Ketua YABHYSA Sumenep, Zetiawan Trisno, menjelaskan bahwa kader TBC memiliki tiga peran utama: investigator, inisiator, dan mediator.
“Kader harus melakukan investigasi kontak untuk menemukan kasus TB secara aktif, mendampingi pasien selama pengobatan, serta mendorong pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi kontak serumah,” jelas Zetiawan.
Selain itu, kader juga diharapkan dapat memperluas praktik Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) guna memutus rantai penularan di masyarakat.
Pada tahun 2025, Kabupaten Sumenep menargetkan penemuan 2.955 kasus TB, dengan 62 kader aktif yang siap membantu eliminasi penyakit ini. Pelatihan ini juga bertujuan untuk memastikan kesiapan kader di seluruh Puskesmas, termasuk dalam Inisiasi Pengobatan TB Resisten Obat (TB RO).
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kader memiliki pemahaman yang kuat dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Semakin banyak kasus yang ditemukan lebih awal, semakin besar peluang kita untuk menekan penyebaran TBC di Sumenep,” tutup Zetiawan. (Red)











