Example floating
Example floating
PemerintahBerita

Hilal Tak Terlihat di Pasuruan dan Malang, Posisi Masih di Bawah Ufuk

Avatar of Altriannews.com
277
×

Hilal Tak Terlihat di Pasuruan dan Malang, Posisi Masih di Bawah Ufuk

Sebarkan artikel ini
ALTRIANNEWS.COM 20260313 182050 0000

ALTRIAN NEWS — Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan menggelar rukyatul hilal untuk memantau awal Ramadhan 1447 Hijriah, Selasa sore menjelang magrib.

Kegiatan pengamatan dilakukan di lingkungan MAN Insan Cendekia Pasuruan bersama tim pemantau hilal dari berbagai unsur.

Namun proses pengamatan tidak berjalan maksimal karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Sejak sore langit Pasuruan tertutup awan tebal disertai hujan deras.

Akibatnya, hilal dipastikan tidak dapat terlihat pada saat pengamatan berlangsung.

Sekretaris LFNU Kabupaten Pasuruan, M Rusdi, menjelaskan bahwa secara perhitungan falakiyah posisi hilal memang masih berada di bawah ufuk.

Menurutnya, nilai ketinggian hilal masih negatif sehingga secara astronomis belum memenuhi syarat imkanur rukyat.

Perhitungan falakiyah dilakukan menggunakan sejumlah metode yang menjadi rujukan kalangan ahli falak Nahdlatul Ulama.

Metode tersebut di antaranya Irsyadul Murid, Ephemeris, Nurul Anwar, serta Badi’atul Mitsal.

Seluruh metode tersebut menunjukkan hasil yang sama, yakni hilal belum wujud dan belum memenuhi kriteria rukyat.

Dalam rincian perhitungan, metode Adduru Al-Aniq mencatat ketinggian hilal minus satu derajat lebih lima puluh menit.

Sementara metode Badi’atul Mitsal menunjukkan angka minus nol derajat dua puluh tiga menit sebagai posisi tertinggi hilal.

Seluruh angka tersebut masih berada di bawah garis ufuk sehingga secara falakiyah hilal mustahil terlihat, baik dengan mata telanjang maupun alat optik.

Rusdi menambahkan, baik menggunakan standar mabim lama maupun mabim baru, hasilnya tetap menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.

Dengan kondisi tersebut, besar kemungkinan bulan Syaban akan digenapkan menjadi tiga puluh hari melalui metode istikmal.

Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Malang yang pada hari yang sama turut menggelar rukyatul hilal.

Pemantauan di Malang dipusatkan di Pendopo Pemerintah Kabupaten Malang dengan melibatkan berbagai unsur terkait.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Agama, pengurus LFNU setempat, serta tim pemantau hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri, menyampaikan bahwa hasil perhitungan astronomi menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, pada 17 Februari 2026 posisi hilal bernilai negatif sehingga tidak mungkin terlihat pada sore hari tersebut.

Ia menjelaskan bahwa ketinggian hilal di berbagai wilayah memang berbeda, namun seluruhnya masih berada pada posisi minus.

Di Jayapura, ketinggian hilal tercatat sekitar minus 2,41 derajat.

Sementara di Tua Pejat, Sumatera Barat, posisi hilal berada di kisaran minus 0,93 derajat.

Data tersebut menegaskan bahwa secara nasional hilal belum memenuhi syarat visibilitas pengamatan.

Seluruh laporan hasil rukyat dari daerah nantinya akan menjadi bahan pembahasan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadhan.

Pemerintah akan menentukan awal Ramadhan berdasarkan kombinasi laporan rukyat lapangan dan hasil perhitungan hisab nasional.

Masyarakat pun diminta menunggu keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal puasa Ramadhan tahun ini.

 

Penulis: Acan

Editor: Tim Redaksi Altriannews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *