Example floating
Example floating

Gerakan 111.111 Al-Waqi’ah, Bupati Fauzi Ajak ASN Perkuat Spiritual dan Integritas Pelayanan

IMG 20261023 WA0007
Ket/foto: Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. (altriannews.com)
A-AA+A++

SUMENEP | ALTRIAN NEWS – Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan bahwa gerakan pembacaan Surah Al-Waqi’ah melalui program 111.111 Al-Waqi’ah menjadi ikhtiar spiritual untuk memperkuat nilai keagamaan sekaligus membangun karakter aparatur pemerintah yang berakhlak, berintegritas, dan tulus dalam melayani masyarakat.

Gerakan tersebut dikaitkan dengan momentum peringatan Hari Santri Nasional dan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Pemerintah Kabupaten Sumenep berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi juga mendorong penguatan kehidupan religius dalam lingkungan pemerintahan dan masyarakat.

Bupati Fauzi menjelaskan, pemilihan Surah Al-Waqi’ah sebagai bagian dari gerakan spiritual tersebut memiliki makna tersendiri. Surah ini kerap dikaitkan masyarakat dengan rezeki dan keberkahan, sehingga pembacaannya diharapkan menjadi ikhtiar batin untuk memohon keselamatan, kelapangan rezeki, dan dijauhkan dari berbagai kesulitan.

“Hari Santri adalah pengingat Resolusi Jihad, Hari Jadi adalah pengingat jati diri Sumenep. Keduanya kita satukan dalam satu ikhtiar spiritual membaca Al-Waqi’ah. Ini cara kita membangun Sumenep tidak hanya secara fisik, tapi juga secara batin,” ujar Bupati Fauzi.

Menurutnya, peringatan Hari Santri dan Hari Jadi Kabupaten Sumenep perlu dimaknai lebih mendalam. Kedua momentum tersebut dinilai dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat nilai keagamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumenep.

Bupati Fauzi juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kompetensi profesional dan kekuatan karakter dalam penyelenggaraan pemerintahan.

ASN dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), menurutnya, tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, disiplin, dan tanggung jawab, tetapi juga perlu menjaga akhlak serta memperkuat spiritualitas ketika menjalankan tugas pelayanan publik.

“Kompetensi tanpa akhlak akan rapuh. Melalui gerakan 111.111 Al-Waqi’ah ini, kami ingin ASN semakin dekat dengan Al-Qur’an, sehingga dalam melayani masyarakat ada keikhlasan, integritas dan kesadaran penuh,” tandasnya.

Pesan tersebut menempatkan integritas sebagai bagian penting dalam pengabdian aparatur pemerintah. Pelayanan yang baik tidak hanya bergantung pada kemampuan bekerja, tetapi juga pada sikap jujur, tanggung jawab, dan kesungguhan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Penguatan spiritualitas di lingkungan birokrasi diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan profesionalisme. Dengan demikian, nilai keagamaan tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga tercermin dalam perilaku kerja dan pelaksanaan tugas sehari-hari.

Hari Santri Nasional menjadi pengingat atas kontribusi santri dan ulama dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu, Hari Jadi Kabupaten Sumenep menjadi momentum untuk mengenang sejarah daerah sekaligus memperkuat identitas masyarakatnya.

Pemerintah daerah berharap penyatuan kedua momentum tersebut melalui gerakan pembacaan Surah Al-Waqi’ah dapat memperkuat semangat kebersamaan serta menumbuhkan kesadaran spiritual di kalangan aparatur dan masyarakat.

Sumenep memiliki tradisi keagamaan dan kehidupan pesantren yang menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat. Karena itu, kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk merawat nilai kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Meski demikian, penguatan nilai spiritual perlu diikuti tindakan nyata. Dalam konteks pemerintahan, hal tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan disiplin, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Pemkab Sumenep berharap gerakan pembacaan Surah Al-Waqi’ah dapat berkembang menjadi tradisi dalam memperingati hari-hari besar daerah. Harapan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat kehidupan spiritual aparatur sekaligus menjaga identitas Sumenep sebagai daerah yang religius dan berbudaya.

Keberlanjutan kegiatan tersebut akan semakin bermakna apabila nilai yang dibangun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.

Gerakan 111.111 Al-Waqi’ah pada akhirnya diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebersamaan dalam berdoa, tetapi juga pengingat pentingnya membangun daerah melalui keseimbangan antara pembangunan fisik, penguatan karakter, dan tanggung jawab sosial.

Bagi aparatur pemerintah, pesan utamanya adalah menjadikan nilai keagamaan sebagai dorongan untuk bekerja secara profesional dan melayani dengan penuh tanggung jawab. Sementara bagi masyarakat, momentum ini dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan serta menjaga tradisi religius yang telah mengakar di Kabupaten Sumenep.

 

Penulis: ACAN

Editor: Tim Altrian News